Mimbar Inspirasi BEM FK UGM, Inspirasi Membangun Negeri

Mimbar Inspirasi BEM FK UGM, Inspirasi Membangun Negeri

C360_2014-05-18-12-49-22-852

 

 

Minggu, 18 Mei 2014 seisi Auditorium FK UGM terinspirasi oleh 3 sosok inspiratif. Sosok tersebut adalah Bapak Herry Zudianto (Walikota Jogja 2001-2011), Luthfi Hamzah Husin (Presiden Mahasiswa UGM 2011-2012), dan Nyoman Anjani (Presiden Mahasiswa ITB 2013-2014). Beliau-beliau menginspirasi melalui Mimbar Inspirasi, sebuah acara yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa FK UGM, Kabinet Inspiratif Mengabdi. Dengan tagline “Inspirasi Membangun Negeri”, Mimbar Inspirasi bertujuan untuk menebar inspirasi sehingga bisa turut memberi inspirasi ke masyarakat untuk membangun Indonesia.

Bapak Herry Zudianto dikenal sebagai “Walikota Bodoh”. Beliau bodoh karena tak mau memanfaatkan jabatannya untuk kepentingan pribadi. Menurut beliau, menjadi pemimpin ibarat menjadi penggembala kambing.  Artinya, pemimpin adalah pelayan masyarakat. Beliau pun lebih suka disebut sebagai “Ketua Pelayan Masyarakat” daripada disebut sebagai Walikota Jogja. Pemimpin haruslah jujur dan memiliki keyakinan diri. Jujur adalah harta yang sangat powerful untuk membuka dunia menjadi lebih luas. Sama halnya dengan pedagang yang jujur pasti dagangannya lebih laris. Pemimpin juga harus memiliki keyakinan diri agar tak mudah terombang-ambing.

Ada hal yang menarik dari beliau bahwa janganlah menjadi pemimpin “pakar” (apa-apa dibuat sukar). Artinya jangan menyelesaikan masalah dengan menambah rumit. Dalam menyelesaikan masalah, pemimpin harus mengambil keputusan yang terbaik dari yang terburuk. Segala keputusan yang beliau ambil hanya ingin agar wilayahnya nyaman. Nyamannya suatu wilayah tergantung dari 3 aspek : kondisi fisik, layanan dasar (kesehatan, pendidikan), ekonomi, dan kerukunan. Kerukunan merupakan hal yang sering disepelekan. Kerukunan terwujud karena peran pemimpin lokal, seperti Ketua RW. Suatu kota maju bukan karena walikota atau bantuan dari pemerintah tetapi karena peran pemimpin lokal yang membangun kerukunan di wilayahnya.

Berbeda dengan Pak Herry, adalah seorang Luthfi Hamzah Husin. Beliau adalah alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM. Luthfi adalah sosok pemimpin muda inspiratif nan enerjik. Mengutip dari H. Agus Salim, bahwa jalan seorang pemimpin adalah jalan penuh penderitaan. Memimpin bukan soal “di” (dihormati, dikagumi), melainkan lebih kepada “me” (menyumbangkan ide, mendengar, mengayomi). Leader yang hanya berlabel posisi namun tak menjalankan fungsinya pasti akan terjatuh. Pemimpin harus mengakar dalam ke bumi dan menjulang tinggi ke langit, artinya berkarakter dan bisa memberikan sebuah masterpiece untuk masyarakat. Pemimpin juga harus low profile, namun bukan berarti inferior complex. Mahasiswa sebagai pemimpin muda tak boleh hanya mencerca pemerintah tanpa memberikan solusi. Karena itulah Tri Dharma Perguruan Tinggi, pendidikan, penelitian, dan pengabdian harus selalu dijunjung.

Lain sosok, lain pula gayanya. Begitu pun dengan Nyoman Anjani, seorang wanita cantik, tangguh, dan pecinta seni. Beliau adalah alumni jurusan Teknik Mesin ITB. Menjadi seorang pemimpin bukan berarti tidak bisa mengembangkan hobi. Nyoman sangat hobi melukis, mendaki gunung, dan fotografi. Berangkat dari hobinya pula, beliau menggagas Ekspedisi Pelita Muda, community development untuk menerapkan teknologi tepat guna di daerah tertinggal yakni Pulau Siberut. Nyoman bercita-cita menjadi technopreneur. Alasannya adalah perekonomian Indonesia tahun 2030 nanti menduduki peringkat ke-7 dunia. Indonesia butuh entrepreneur sejumlah 2 %, namun kini 1 % pun belum mencapai. Jumlah mahasiswa Indonesia tahun 2013 adalah 5,6 juta dan mahasiswa patut bersyukur bisa mencicipi bangku kuliah karena uang rakyat. Salah satu wujud rasa syukur tersebut adalah mengembangkan potensi diri untuk membangun negeri. “Leadership is about leading, influencing, commanding, and guiding people”, kata Nyoman. Berkaitan dengan influencing, pemimpin harus cerdas dalam membumikan gerakan, jangan sampai gerakan yang kita usung terkesan eklusif. Maka gunakan konsep bottom up. Keberhasilan seorang pemimpin adalah ketika ia bisa mewariskan nilai-nilai positif untuk generasi di bawahnya.

Ketiga sosok pemimpin tadi menggambarkan bahwa memimpin adalah seni, dengan cara berbeda namun dengan tujuan sama, yakni kemaslahatan bersama. Setiap pemimpin pasti memiliki sisi inspiratifnya masing-masing. Maka temukanlah api inspiratif dalam diri kita, niscaya akan ada percikan api inspiratif untuk sekitar kita.

Media dan Informasi BEM FK UGM 2014