Sejarah KMFK & BEM FK UGM

Bentuk kesatuan keluarga mahasiswa tentu bukan lagi hal yang tak biasa di lingkungan kampus. Bentuk kesatuan seperti ini berasal dari konsep student government yang bisa dikatakan sebagai miniatur dari kegiatan politik yang ada di negara. Mahasiswa berperan sebagai representatif dan warga, akan menjalankan tugasnya masing-masing. Namun tentu saja mahasiswa akan bekerja sesuai dengan undang-undang yang berlaku di kampusnya.

Untuk FK UGM sendiri, sejarah mencatat perjalanan yang cukup panjang. Sejarah dimulai pada tahun 60an ketika hanya ada 1 lembaga mahasiswa intra kampus dengan nama DEMA (Dewan Mahasiswa). Saat itu pergerakan mahasiswa masih sangat militan demi memperbaiki negara dan menjauhkan rezim otoriter. Hal itu terus berjalan sampai Malari (15 Januari 1974) terjadi dan sederetan peringatan momen seperti hari pahlawan tahun 1977 dan 12 tahun tritura 10 Januari 1978. Pemerintah mulai meredam kegiatan mahasiswa yang dinilai membahayakan rezim. Kejadian tersebut menyebabkan pemerintah menaruh “Segel” gerakan mahasiswa dengan NKK/BKK. Intinya pemerintah ingin meredam hasrat perjuangan mahasiswa dan memfokuskan mereka kedalam kegiatan akademis dan menjauhi mahasiswa dari kata “Aktivis”. Efek langsung terhadap kehidupan intrakampus adalah dipecahnya DEMA, yang tadinya lembaga pemegang 2 kekuasaan (Eksekutif & Legislatif), menjadi Senat (Eksekutif) dan LPM (Lembaga Perwakilan Mahasiswa; Legislatif). Pada saat itu juga pemerintah menghendaki adanya astung (Asas tunggal) Pancasila. Namun, tidak semua universitas menyetujuinya, dan  akhirnya UGM lebih memilih mengadopsi sistem BEM (Eksekutif) dan Senat (Legislatif). Sistem yang awalnya dipakai BEM KM UGM ini akhirnya dipakai oleh semua fakultas yang ada di UGM. Keberadaan BEM sendiri saat itu menjadi badan yang tak tergantikan untuk menampung aspirasi mahasiswa.

Seiring waktu berjalan, banyak lembaga intrakampus yang perlahan lahan muncul. Alhasil, mahasiswa dan fakultas memikirkan cara efektif untuk bisa membuat semua pihak menang. Timbulah urge untuk membuat sistem baru yang bisa memfasilitasi semua pihak. Diadakan berbagai macam workshop untuk menemukan sistem yang cocok untuk FK UGM. Akhirnya disepakatilah sistem student goverenment dimana dilaksanakan juga sebuah kebijakan satu pintu dengan pembagian kerja yang jelas. Konsep student government inilah yang akhirnya menjadi dasar ide Keluarga Mahasiswa Fakultas Kedokteran.

Proses pembentukan KMFK itu sendiri sangat sulit karena masing-masing organisasi sudah memiliki titik nyaman dan perubahan bukan kata yang ingin didengar. Harapan dibentuknya student government itu sendiri adalah agar organisasi mahasiswa FK menjadi lebih kuat dan adanya keefektifan aktivitas seperti: secara perlahan menghilangkan acara ‘kembar’ yang dilakukan organisasi berbeda. Fungsi pengaturan ini diperuntukan untuk “menyunat” anggaran dan acara yang tidak perlu, dengan Kongres sebagai penentu tertinggi.

NKK/BKK juga merubah pemilihan ketua BEM pada saat itu. Setelah NKK/BKK semua mahasiswa bisa mencalonkan diri selama membawa 75 KTM. Biasanya mahasiswa tahun ke 4. Pada tahun 1999 dilaksanakanlah Pemira (Pemilihan Raya Mahasiswa) KMFK yang pertama. Pada saat itu Pemira diikuti oleh 3 Partai yang menjagokan masing-masing Capresmanya. PMB (Partai Mahasiswa Bersatu), Partai Mata Hati (Partai angkatan 99), dan PIS (Partai Insan Sehati). Setelah melalui proses pemilihan yang panjang, terpilihlah dr. Widya Wasityastuti, sebagai Presiden Mahasiswa FK UGM pertama dan sampai saat ini masih satu-satunya presiden wanita di KMFK. Mulai tahun ini pula istilah “Presiden Mahasiswa” digunakan menggantikan istilah Ketua BEM. Sebelumnya,  dr. Hendrawan menjadi Ketua BEM pada tahun 1997. Kemudian dilanjutkan oleh dr. Nurkholis Umam, alumni SMA 1 Solo, yang menjadi Ketua BEM 1998. Lalu Ketua BEM “yang terakhir” adalah dr. Teguh ,sekarang menjadi calon profesor di USM, yang menjabat pada tahun 1999. Setelah dr. Widya, Pemira ke-2 menghasilkan dr. Adnan menjadi Presiden Mahasiswa FK UGM. Beliau juga menjadi Sekjen ISMKI pada tahun 2001.

Pada tahun 2003, mulai diterapkan sistem PBL penuh. Sistem ini menyingkat masa studi mahasiswa FK. Hal ini menyebabkan pergeseran generasi untuk menjadi Presiden Mahasiswa. Awalnya, pemira dilaksanakan pada bulan April dan biasanya mahasiswa tahun ke-4 yang mencalonkan diri. Dengan singkatnya masa studi, Pemira bergeser lebih awal dan diadakan di bulan Desember dan yang mencalonkan diri biasanya adalah mahasiswa tahun ke-2.

Pada awal berdirinya, BEM hanya memiliki 5 departemen yaitu Pendidikan dan Penalaran, Minat Bakat, Kesejahteraan Mahasiswa, Kesekretariatan dan Pengabdian Masyarakat. Hingga mengalami perubahan pada setiap angkatannya sampai sekarang (BEM FK UGM 2015) menjadi 9 Kementerian (Hubungan Luar, Minat dan Bakat, Media dan Informasi, Kaderisasi, Kajian Strategi, Advokasi dan Profesi, Medicopreneur, Sosial Masyarakat, PSDM) ditambah Menteri Koordinasi Eksternal dan Internal, Sekretaris dan Bendahara, Sekretaris Jenderal dan Presiden Mahasiswa.

Saat ini juga, BEM FK UGM 2015 memiliki nama Kabinet yaitu kabinet Harmoni Perubahan.

B_iN6w5UgAA8UBcLOGO KABINET HARMONI PERUBAHAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *